Menjadi tetamu Allah...melakukan tawaf mengelilingi Kaabah

Friday, July 23, 2010

USTAZ NAJHAN : Ilmu Di Dalam Islam

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ


Penyebutan kata ilmu yang berulang ulang dalam Al - Qur’an menunjukkan kepada kita bahawa ilmu merupakan salah satu konsep kunci dalam Islam sekaligus menunjukkan betapa besar perhatian Islam terhadap ilmu. Lantaran itu manusia yang tidak menggunakan pancaindera yang dianugerahkan oleh Allah tersebut untuk mendapatkan ilmu yang benar akan ditempelak oleh Allah. Hal ini jelas disebut melalui firman Allah S.W.T,


"Sesungguhnya Kami jadikan untuk neraka Jahannam kebanyakkan Jin dan manusia, bagi mereka ada jantung hati (tetapi) tidak mengerti dengannya, dan bagi mereka ada mata (tetapi) tidak melihat dengannya, dan bgai mereka ada telinga (tetapi) tidak mendengar dengannya. Mereka itu seperti binatang ternakan, bahkan mereka lebih sesat. Mereka itulah orang-orang yang lengah." (Al-‘Alaq:179)


Sebagaimana yang di sebut dalam satu ayat Al Qur’an yang berisi dorongan kepada umat Islam untuk menguasai ilmu :

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَىَ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ


Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Surah Ali Imran :190-191).

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ


Katakanlah : “ Samakah orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu ? Hanya orang-orang yang mengerti yang dapat memikirkan (Surah Az-Zumar :9).


Ilmu Allah tersangat luas, yang kita kongsi bersama sangat sedikit sekali. Ini di sebut dalam firman Allah SWT :

وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِن شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِن بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَّا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ


“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Surah Luqman :27)


Pasti ilmu Allah tentunya sangatlah luas. Ibarat semua pohon di bumi dijadikan pena dan laut dijadikan tinta kemudian ditambahkan tujuh laut sehingga kering maka tidak akan habis ilmu Allah SWT kalau ditulis. Sedangkan Ilmu yang diberikan kepada manusia ibarat seseorang mencelupkan satu jarinya di laut, dan setitis air yang jatuh itulah ilmu yang Allah berikan kepada manusia untuk dikongsikan oleh seluruh umat.


Namun tidak semua ilmu yang bermenafaat. Ada juga ilmu yang mendatangkan mudarat. Maka adalah dilarang kita belajar ilmu tersebut. Menjadi amalan Rasulullah s.a.w . doa yang sering di baca oleh Rasululullah dalam menuntut ilmu. Diantara doa yang boleh kita baca seperti dibawah ini.

‫اللهم انفعنى بما علمتنى وعلمني ما ينفعنى وارزقنى علما ينفعنى‬ ‫وزدنى علما‬


Ya Allah perkenankanlah kiranya engkau memberikan kemanfaatan ilmu yang engkau ajarkan kepadaku.Dan ajarkanlah pula ilmu yang bermanfaat serta tambahkan lagi ilmu kepadaku.


Doa yang diajar oleh Rasululullah, semuanya sangat sempurna dan lengkap merangkumi segala ruang lingkup dunia akhirat. Di dalam doa tersebut dihimpunkan segala kebaikan. Maka sumber doa yang diajar oleh Rasulullah s.a.w. sangat baik di amalkan. Mentelahan doa yang kita pohon selalunya tidak sempurna. Contoh doa minta jadi kaya, tidak minta kaya dari rezeki yang halal dan berkat, juga tidak pula digunakan kaya tersebut untuk menginfakkan harta.


Jadi doa Rasulullah sangat lengkap dan sempurna. Umpama doa minta Allah beri kebaikkan didunia dan di akhirat, yang sering kita ulang baca sewaktu tawaf, sudah cukup mencakup keseluruhan kehidupan dunia dan akhirat kita, cubalah kita renungkan doa tersebut minta kita jauh dari neraka, nampak bayang pun tidak mahu. Neraka itu sungguh tidak tertanggung. Kalau terbakar di dunia, sakit macam mana sekalipun, masih boleh di hadapi, tapi di akhirat sangat tidak tahan. Di dunia, boleh sabar lagi. Di akhirat, azab tidak akan ada sesiapa dapat bersabar.


Ilmu yang kita belajar, perlu ilmu yang memberi menafaat, jangan belajar ilmu yang memberi mudarat. seperti sihir, tilik dan sebagainya. Namun jika untuk mengetahui tipu daya bukan untuk digunakan, harus sekadarnya sahaja. Namun bukan semua orang boleh mempelajarinya.


Ilmu yang bermenafaat, sangat terkesan di hati. Umpama ilmu islam. Semakin belajar semakin taat kepada Allah. Bahkan menjadikan seseorang semakin bertaqwa kepada Allah. Konsep ilmu islam senang di fahami oleh semua manusia. Baik yang belajar tinggi, atau tidak bersekolah, mudah memahami islam. Kerana islam itu fitrah. Jika seseorang yang mengaji tentang kuman sahaja menjadikan dia taat kepada Allah, apatah lagi ilmu islam, Lebih-lebih ilmu tersebut menghampirkan kita kepada Allah, sangatlah ianya berkesan dan bermenafaat.


Umpama ilmu Fekah (lahiriah) dan Tasauf (batiniah) kedua-dua sangat bersangkut paut kepentingan antara satu sama lain. Ilmu Fekah di antaranya memperjelas samada sah atau tidaknya solat, jadi perlu di ketahui. Menurut ulama' "Barang siapa ada ilmu Fekah tetapi tidak ada ilmu tasauf jiwa kemungkinan akan jadi fasik. Ilmu ada, tapi tidak boleh beramal. Orang yang ada ilmu tasauf pula tidak ada ilmu fekah, kemungkinan dia jadi orang yang sesat. Menyembah Allah tidak sebagaimana yang di anjurkan oleh Allah. Nauzubillah min zalik.


Sabda Nabi Muhammad S.A.W. yang bermaksud; "Menuntut ilmu adalah fardhu bagi tiap-tiap Muslim, baik laki-kali mahupun perempuan." (HR. Ibn Abdulbari)


Dari hadis ini kita memperoleh pengertian bahawa Islam mewajibkan umatnya agar menjadi orang yang berilmu, berpengetahuan, mengetahui segala kemaslahatan dan jalan kemanfaatan; agar dapat menyelami hakikat alam, dapat meninjau dan menganalisis segala pengalaman yang didapati oleh umat yang lalu, baik yang berhubungan dengan ‘aqidah dan ibadat, serta hubungannya dengan soal-soal keduniaan dan segala keperluan hidup.


Nabi Muhammad S.A.W. bersabda:"Barangsiapa menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmunya; dan barangsiapa yang ingin (selamat dan berbahagia) di akhirat, wajiblah ia mengetahui ilmunya pula; dan barangsiapa yang menginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula." (HR. Bukhari dan Muslim)


Jadi, apakah ilmu yang bermenafaat? Tidak lain adalah ilmu yang mendatangkan rasa takut kepada Allah. Ia terbahagi dua, iaitu ilmu Qalbi dan ilmu Lisan.


1. Ilmu yang bermenafaat ialah ilmu dalam dada manusia. Apabila ia benar-benar bermenafaat ia akan memberi kesan di hati. jika tidak memberi kesan belum datang menafaat lagi. Memang payah untuk mencari hari ini. Menurut ustaz, dulu guru tidak bawa kitab, murid yang bawa kitab. sebab guru yang penulis kitab tersebut. jadi ia akan mengeluarkan satu-persatu dari dadanya. Tapi hari ini, guru yang bawa banyak kitab, murid pula tidak membawa kitab. Bijak sudah murid sekarang... itulah yang dimaksudkan, ilmu yang datang dari hati akan pergi ke hati. Ia akan pergi ke stesyen dia. Jadi dari segi keutamaan, elok kita ada guru yang karang kitab sendiri, orang alim yang ada karangan sendiri mengajarkan kitab tersebut.


2. Ilmu pada lisan. Hujjah Allah yang dikurniakan pada sebahagian anak adam. Bila Allah mengurniakan pada seseorang, maka akan keluar pandangan yang boleh ketuk hati seseorang. Umpama Saidina Ali, seorang yang muda belia, menjadi sahabat nabi sejak kecilnya, sehingga Rasulullah berkata, 'aku khazanah ilmu, sedang Ali ada kuncinya'. Ali ada ilmu dada dan ilmu lisan. Saidina Ali boleh menegur Umar al-khattab yang pernah di sebut oleh Nabi, sekiranya adalah nabi sesudah baginda, Umar lah orangnya. Tatkala, ditanyai oleh sahabat di zamannya, di zaman Ali, banyak khulafak Ar rasyidin mati dibunuh. Ali menjawab ringkas, namun pukulan jawabannya berbalik kepada mereka yang bertanya. Jawab Ali, waktu Umar perintah, rakyatnya seperti aku, tetapi waktu aku perintah rakyatnya seperti kamu semua. Suka membantah dan kurang bertaqwa. Jawapan Saidina Ali yang cukup mantap, mencerminkan umat di zamannya yang sudah tidak taqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa.


Menurut ustaz, ilmu nilaiannya bukan sebab banyaknya punyai ilmu tersebut, tetapi sejauh mana pengamalannya dibuat. Apa guna bangga dengan banyaknya ilmu, tetapi tidak beramal. Bila ada ilmu terus amal, barulah ada menafaatnya. Nabi punyai seorang sahabat yang cukup banyak ilmunya, Nabi punyai doa khusus untuk sahabatnya ini, iaitu Abdullah Ibnu Abbas.


عن ابن عباس قال: كنت في بيت ميمونة ابنة الحارث فوضعت لرسول الله صلى الله عليه وسلم طهوره فقال: من وضع هذا؟ فقالت ميمونة: عبد الله ، فقال: " اللهم فقهه في الدين وعلمه التأويل "


Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata: “Aku pernah berada di rumah Maimunah binti Al-Haarits. Maka aku ambilkan untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam (air) untuk bersuci (thoharah). Beliau pun bertanya:“Siapakah yang mengambilkan (air) ini?”. Maimunah menjawab: “Abdullah”. Beliau bersabda: “Ya Allah, faqihkanlah ia dalam agama dan ajarkanlah ilmu ta’wil (tafsir) kepadanya”. (Hadis Riwayat Ibnu Hibban, 15/531, no. 7055. Ath-Thabrani, 10/263, no. 10614. Juga diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bukhari, Ibnu Sa’ad, Ibnu Abi ‘Ashim)


Selain al­Qur’an dan al­-Hadis, para sahabat juga menyatakan bahwa sangat penting bagi kaum Muslimin memiliki ilmu pengetahuan.

Ali bin Abi Talib ra., misalnya berkata :

‫ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺧﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻷﻥ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﺗﺤﺮﺳﻪ ﻭﺍﻟﻌﻠﻢ ﻳﺤﺮﺳﻚ ﻭﺍﻟﻤﺎﻝ َﻔ ِِﻴ ُ ﺍﻟﻨﻔﻘﺔ ﻭﺍﻟﻌﻠﻢ ﻳﺰﻛﻮﺍ ﻋﻠﻰ ﺍﻻﻧﻔﺎﻕ ﻭﺍﻟﻌﻠﻢ‬ ‫ﺗﻨﻪ‬ ‫ ﺣﺎﻛﻢ ﻭﺍﻟﻤﺎﻝ ﻣﺤﻜﻮﻡ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﺎﺕ ُ ّﺍ ُ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻭﻫﻢ ﺃﺣﻴﺎء ﻭﺍﻟﻌﻠﻤﺎء ﺑﺎﻗﻮﻥ ﻣﺎﺑﻘﻲ ﺍﻟ ّﻫﺮ ﺃﻋﻴﺎﻧﻬﻢ ﻣﻔﻘﻮﺩﺓ ﻭ ﺁﺛﺎﺭﻫﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﻠﻮﺏ‬ ‫ﺪ‬ ‫ﺧﺰ ﻥ‬ ‫ﺓ‬ ٌ‫ ﻣﻮﺟﻮﺩ‬


“Ilmu lebih baik daripada harta, oleh karena harta itu kamu yang menjaganya, sedangkan ilmu itu adalah yang menjagamu. Harta akan lenyap jika dibelanjakan, sementara ilmu akan berkembang jika diinfakkan (diajarkan). Ilmu adalah penguasa, sedang harta adalah yang dikuasai. Telah mati para penyimpan harta padahal mereka masih hidup, sementara ulama tetap hidup sepanjang masa. Jasa­-jasa mereka hilang tapi pengaruh mereka tetap ada/membekas di dalam hati.


Demikianlah kenapa Islam mewajibkan kita menuntut ilmu-ilmu yang memberi manfaat dan berguna untuk kita dalam hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan kita di dunia dan akhirat, agar tiap-tiap muslim tidak dikategorikan sebagai terkebelakang dan agar setiap muslim dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang dapat membawa kesejahteraan sepanjang kehidupan baik di dunia maupun di akhirat kelak. Allahu a'lam.

No comments:

Post a Comment